Tugu Siborang sebagai Ikon Kota Padang Sidimpuan
  
Padang Sidimpuan dari puncak Bukit Simarsayang
 
Inti Kota Padang Sidimpuan Dikala Senja
 
padangsidimpuan siang hari

Inti Kota Padang Sidimpuan Dikala Senja
 
Inti Kota Padang Sidimpuan Kini
 
 
Inti Kota padang Siidmpuan dari Puncak Bukit Silayang-layang
 
 
Jembatan Siborang Kota Padang Sidimpuan
 
Inti Kota Padang Sidimpuan dilihat dari lantai atas Rumah Makan Royal.
 
Jalan Thamrin dilihat dari lantai atas Ruko di eks Pasar Loak
 

 
Beginilah Stadion Naposo setelah namanya diubah jadi Stadion HM Noerdin

Terminal Pijorkoling untuk mengatasi kemacetan di inti Kota Padang Sidimpuan

     
     

Kota Salak Padangsidimpuan Cuacanya sejuk sedikit menghembus. Semakin menggoda dengan julukan yang masih melekat erat; kota salak. Juga mengundang selera bagi penikmat cita rasa makanan. Dan didukung oleh alam yang subur.

Berada di atas ketinggian 325 meter di atas permukaan laut. Jika hendak menuju kota ini perjalanan akan memakan waktu sekitar Waktu tempuh sekitar 10 jam dengan perjalanan darat.

Konon, berdasarkan sejarah, pada sekitar tahun 1700-an Kota Padangsidimpuan yang kita kenal sekarang dulunya merupakan sebuah dusun kecil yang disebut dengan "padang na dimpu"€�, yang artinya suatu dataran tinggi yang ditumbuhi ilalang lebat. Lokasi dusun ini berlokasi di Kampung Bukit Kelurahan Wek II di pinggiran Sungai Sangkumpal Bonang sekarang.

Dikenal dengan julukan kota salak karena rasanya yang khas. Namun sebenarnya julukan kota salak merupakan bagian kecil untuk menunjukkan identitas daerah yang berada di bagian barat Provinsi Sumatera Utara ini.

Buah salak yang berasal dari Padangsidimpuan memang sudah cukup dikenal dengan rasanya yang manis, buahnya besar-besar dan bijinya yang kecil merupakan ciri khas tersendiri serta kebanggan bagi daerah beriklim tropis ini.

Namun jika dilihat berdasarkan potensi yang ada, Padangsidimpuan sebenarnya juga kaya dengan potensi buah-buahan lainnya.

Berdasarkan potensi komoditi buah-buahan yang ada, jumlah produksi salak bukanlah satu-satunya komoditi unggulan unggulan yang ada di daerah yang terkenal subur ini. Menurut survei yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kota Padangsidimpuan pada tahun 2004, buah salak hanya menduduki peringkat ke-6 setelah produksi unggulan lainnya seperti duku atau buah langsat, alpukat, manggis, mangga, durian dan jeruk.

Terlihat perbedaan kuantitas yang menyolok bila mana dilihat dari segi jumlah produksi. Pada tahun 2004, produksi buah duku mencapai angka produksi sebesar 60 ton disusul dengan alpukat 46 ton, manggis 45 ton, mangga 34 ton, durian 31 ton dan jeruk 15 ton. Sementara salak hanya mencapai angka produksi sebesar 12 ton.

Melihat sumber daya alamnya yang kaya, maka tak heran peranan sektor pertanian merupakan sektor unggulan kedua yang berkontribusi besar terhadap Produk Regional Domestik Bruto setelah perdagangan dan jasa hingga tahun 2006. Sebesar 60 persen perekonomian daerah masih bertumpu pada sektor pertanian.

Sektor inilah yang menjadi unggulan sekaligus mejadi penopang perekonomian masyarakat. Meskipun seiring dengan waktu, kota ini juga terus melakukan pembangunan kota secara fisik yang juga diharapkan mampu mendongkrak perekonomian rakyat. Jika melihat pembangunan yang dilaksankan saat ini, dalam waktu yang yang tidak singkat kota Padangsidimpuan telah menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sesuai dengan visi dan misinya, kota ini tampaknya sedang getol mewujudkan kota Padangsidimpun menjadi pusat kota dagang dan jasa yang turut serta didukung dengan sektor-sektor yang memadai yakni pertanian tersebut. Misalnya, beberapa pembangunan yang sedang dilaksankan saat ini adalah pembagunan pusat perdagangan “city walk� yang diharapkan pada waktu mendatang dialokasikan menjadi pusat perdagangan dan perbelanjaan. Juga pembangunan pusat perbelanjaan modern (mall).

Pertanian padi masih mendominasi di sektor pertanian. Dari total luas wilayah 11.465,66 hektar, 2800 hektar di antaranya merupakan lahan produksi padi denga julah produksi sebesar 15.275 ton pada tahun 2004. Meskipun sebenarnya angka produksi ini mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya yang berdasarkan angka kebutuhan beras masyarakat jumlah produksi ini masih mampu mencukupi kebutuhan beras lokal. Pada tahun sebelumnya, yakni pada tahun 2003 terdapat luas lahan produksi seluas 3.759 dengan jumlah produksi sebesar 20.508 ton. Penurunan luas lahan produksi ini diakibatkan oleh peningkatan luas lahan pemukiman kota serta demi memenuhi pembangunan sarana infrastruktur perkotaan.

Komoditi pertanian lainnya adalah ubi kayu dengan jumlah produksi sebesar 1.393 pada tahun 2004. Sementara tanaman lainnya adalah sayur-mayur di mana tomat merupakan komoditi unggulannya dengan jumlah produksi sebesar 1.255 ton. Disusul oleh sawi 1.097 ton, ketimun 532 ton, cabai 59 ton kacang panjang 244 ton dan buncis 158 ton.

Sektor unggulan lainnya adalah perkebunan dimana komoditi karet masih menjadi menjadi unggulannya. Terdapat areal produksi seluas 1.495 hektar kebun karet dengan jumlah produksi sebesar 2.256 ton. Disusul dengan perkebunan kelapa sawit, kopi, kelapa, coklat, kulit manis dan pinang.
Hasil-hasil pertanian dari daerah yang terkumpul di daerah-daerah selanjutnya akan dikumpulkan di kota untuk kemudian dikirim ke daerah-daerah lain seperti Sibolga, Medan dan kota-kota lainnya selain untuk komsumsi lokal.

Makanan Khas
Selain itu, daerah berpenduduk 174.004 jiwa juga dikenal memiliki aneka makanan tradisional yang rasanya tidak pernah dilupakan oleh penduduk asli setempat baik penduduk asli yang bermukim di daerah lain.

Makanan itu tak lain adalah semaca, sajian tradisional yang menurut penduduk setempat disebut dengan nama “ikan mas holatâ€�. Disajikan dengan bumbu khas ala tradisional. Rasa ikannya yang manis dibumbui dengan semacam kuah penyedap rasa yang dipadukan dengan asam. Sajian ini akan lebih bernuansa Padangsidimpuan karena juga disajikan dengan sambal asam dan "pakkat"€� yaitu pucuk rotan muda yang dibakar atau diasapi lalu dijadikan pelengkap sajian dengan nasi yang aromanya pun wangi dan mengundang selera.

Sajian masakan tradisional masakan tradisional Kota Padangsidimpuan ini dapat kita temukan kenikmatannya di sekitar pinggiran kota. Misalnya di daerah Siadabuan, sekitar 5 kilometer dari kota, yang terdapat di pinggiran jalan lintas dari Kota Medan menuju Padangsidimpuan dan Sumatera Barat. Selain itu juga terdapat di daerah Paranginan, sekitar 5,5 kilometer dari kota, terdapat di pinggiran jalan lintas menuju Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah. Tempat yang sama juga terdapat di daerah-daerah lainnya, yang rasanya nikmat.

Dengan memandang areal persawahan dengan hembusan angin, tentu "penjelajahan"€� menikmati makanan enak ini merupakan sebuah pengalaman yang begitu mengesankan.

Prioritas Pembangunan Kota
Ada beberapa prioritas utama pembangunan Kota Padangsidimpuan menuju pusat kota barang dan jasa selain menuju kota pendidikan.

Demikian dikatakan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Padangsidimpuan H Sarmadan SH MM ketika ditemui di ruang kerjanya Rabu 9 Agustus 2006 kemarin di ruang kerjanya.

Kelima prioritas itu adalah pemerataan pembangunan demi peningkatan perekonomian rakyat, peningkatan mutu pendidikandan pelayanan kesehatan, peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), pembangunan infrastruktur dan
revitalisasi pertanian.

Pemerataan pembangunan dilaksanakan dengan rencana pewujudan kota sebagai kota pusat perdagangan dan jasa. Dalam hal ini, Sarmadan menjelaskan pencapaian ini berkaitan erat dengan peningkatan pembangunan infrastruktur termasuk pembukaan aset jalan dari daerah untuk memperlancar laju pengiriman hasil produksi pertanian antar daerah seperti jalan lingkar yang menghubungkan satu daerah ke daerah lainnya.

"Ke depan kita harapkan Kota Padangsidimpuan akan menjadi pusat perdagangan hasil-hasil komoditi pertanian dari daerah-daerah pertanian. Dalam upaya ini ini telah dilakukan berbagai upaya seperti pembangunan jalan lingkar yang akan memepercepat akses jalan dari daerah menuju daerah lainnya." katanya.

Jalan lingkar ini mengelilingi inti kota sehingga akses laju pengiriman hasil-hasil pertanian tidak lagi harus melalui pusat kota, katanya. Akses jalan lingkar dimulai dar Hanopan menuju Pijorkoling seterusnya dibawa ke terminal Batunadua lalu ke Huta Imbaru yang kemudian diakhiri ke Hanopan sendiri. Roda perputaran akses pengiriman hasil-hasil pertanian ini akan berpusat di Kota Padangsidimpuan, tambah Sarmadan.

Prioritas berikutnya adalah peningkatan mutu pendidikan di mana pendidikan merupakan dasar utama dalam pembentukan sumber daya manusia (SDM) Kota Padangsidimpuan yang handal dan berdidikasi.

Ia menjelaskan,upaya ke depan yang akan diterapkan adalah dengan peningkatan kualitas guru dan sarana operasional pendidikan. “Pada tahun 2007 sebesar 20 persen APBD akan dianggarkan di sector pendidikan. Anggaran ini selain untuk peningkatan kualitas guru juga akan digunakan untuk menambah sarana operasional pendidikan,� kata Sarmadan optimis.

Memang hingga kini masih ada guru yang hanya lulusan SPG dan PGRI. Untuk itu pada tahun 2007 para guru yang mengajar di tingkat sekolah dasar dan lanjutan akan lebih diutamakan guru-guru yang merupakan lulusan lulusan sarjana (S-1). Namun meskipun demikian tidak tertutup kemungkinan bagi para guru yang hanya lulusan SPG dan PGRI tersebut untuk ditingkatkan dedikasinya ke jenjang sarjana dengan biaya yang berasal dari pemerintah.

"Memang sebelumnya, hasil mutu pendidikan sudah cukup memuaskan. Ini terbukti pada pelaksanaan Ujian Akhir Nasional baru-baru ini, persentase kelulusan mencapai 98,72 persen. Ini merupakan urutan kedua standard kelulusan UAN di Sumatera Utara setelah Serdang Bedagai, namun pemerintah akan terus berusaha agar metu pendidikan Kota padangsidimpuan mampu mengimbangi perkembangan pembangunan,"€� ujar Sarmadan.

Selanjutnya dengan terlaksanya pembangunan infrastruktur dengan baik, maka diharapkan juga akan mampu mendongkrak perekonomian daerah. Misalnya, dengan penetapan peraturan daerah (perda) pemakaian asset kekayaan daerah seperti jalan raya. Selain itu, pembangunan pusat-pusat perbelanjaan yang sedang dilaksanakan yang nantinya diharapkan menjadi pusat perekonomian melalui sector perdagangan juga pembangunan PDAM Tirta Ayumi yang akan mensuplai kebutuhan air minum masyarakat,pengairan pertanian, penataan kota dan perluasan badan jalan di mana Padangsidimpuan merupakan daerah transit antar Provinsi yang menghubungkan Medan dan Sumatera Barat.

Prioritas ini, menurut Sarmadan tentunya juga akan diimbangi dengan revitalisasi pertanian mengingat sector pertanian merupakan salah kontributor tebesar terhadap PAD. Dari luas lahan pertanian seluas 4.500 hektar, 2.800 hektar diantaranya merupakan lahan produksi. “Ke depan pemerintah akan merevitalisasi lahan ini semaksimal mungkin.Seluruh lahan akan diberdayakan sehingga pada tahun-tahun berikutnya luas lahan produksi yang semakin meningkat juga akan diikuti dengan peningkatan jumlah produksi pertanian,� jelas Sarmadan.

Profil Kota Padangsidimpuan
Sumber: Bappeda dan Badan Pusat Statistik Kota Padangsidimpuan

Walikota: Drs H Zulkarnaen Nasution
Motto: "Salumpat Saindege"€� (Saling Bahu-membahu Menuju Kemajuan Bersama)
Luas wilayah: 11.465,66 hektar
Jumlah penduduk: 174.004 jiwa
Kepadatan penduduk: 1.518 jiwa/kilometer
Pertumbuhan penduduk: 1,9 persen
Jumlah kecamatan: 6
Jumlah kelurahan: 27
Jumlah desa: 42
Potensi perekonomian: Pertanian dan perdagangan
Pertumbuhan ekonomi: 4,21 persen

Sekitar tahun 1700 Kota Padangsidimpuan yang sekarang adalah lokasi dusun kecil yang disebut " Padang Na Dimpu " oleh para pedagang sebagai tempat peristirahatan, yang artinya suatu daratan di ketinggian yang ditumbuhi ilalang yang berlokasi di Kampung Bukit Kelurahan Wek II, dipinggiran Sungai Sangkumpal Bonang.
Pada tahun 1825 oleh Tuanku Lelo, salah seorang pengiriman pasukan kaum Padri, dibangun benteng Padangsidimpuan yang lokasinya ditentukan oleh Tuanku Tambusai, yang dipilih karena cukup strategis ditinjau dari sisi pertahanan karena dikelilingi oleh sungai yang berjurang.
Sejalan dengan perkembangan benteng Padangsidimpuan, maka aktivitas perdagangan berkembang di Sitamiang yang sekarang, termasuk perdagangan budak yang disebut Hatoban. Untuk setiap transaksi perdagangan Tuanku Lelo mengutip bea 10 persen dari nilai harga barang.
Melalui Traktat Hamdan tanggal 17 Maret 1824, kekuasaan Inggris di Sumatera diserahkan kepada Belanda, termasuk RECIDENCY TAPPANOOLI yang dibentuk Inggris tahun 1771.
Setelah menumpas gerakan kaum Padri tahun 1830, Belanda membentuk District (setingkat kewedanaan) Mandailing, District Angkola dan District Teluk Tapanuli di bawah kekuasaan GOVERNMENT SUMATRAS WEST KUST berkedudukan di Padang.
Dan tahun 1838 dibentuk dan Asisten Residennya berkedudukan di Padangsidimpuan. Setelah terbentuknya Residentie Tapanuli melalui Besluit Gubernur Jenderal tanggal 7 Desember 1842. Antara tahun 1885 sampai dengan 1906, Padangsidimpuan pernah menjadi Ibukota Residen Tapanuli.
Pada masa awal kemerdekaan, Kota Padangsidimpuan adalah merupakan Pusat Pemerintahan, dari lembah besar Tapanuli Selatan dan pernah menjadi Ibukota Kabupaten Angkola Sipirok sampai bergabung kembali Kabupaten Mandailing Natal.
Melalui Aspirasi masyarakat dan pemerintah tingkat II kab Tapsel serta peraturan pemerintah No.32 tahun 1982 dan melalui rekomendasi DPRD Tapanuli Selatan No.15/KPTS/1992dan No.16/KPTS/1992 kota Administratif Padangsidimpuan diusulkan menjadi kota madya tk.II, bersamaan dengan pembentukan kabupaten daerah tingkat II mandailing Natal, Angkola Sipirok dan Kabupaten Padang Lawas.
Setelah dibentuknya Kab.Mandailing Natal, maka melalui :
1. Surat Bupati Tapsel No.135/1078/2000 tangal 30 Nopember 2000.
2. KEP.DPRD Tapsel No.01/PIMP/2001tgl. 25 januari 2001 serta
3. Surat Gubernur SUMUT No.135/1595/2001 tgl. 5 pebruari 2001
Maka diusulkan pembentukan kota Padangsidimpuan yang menghasilkan diterbitkannya UU No.4 tahun 2001 tentang pembentukan kota Padangsidimpuan.Pada Tgl 17 Oktober 2001 oleh Mendagri atas nama Presiden RI diresmikan Padangsidimpuan menjadi Kota.

Followers

Video Post

Loading...

About Me

My Photo
Sahabat senyummu ibarat pelangi dalam hidupku Tawamu ibarat cerianya hari-hari yang aku lalui N Aku mungkin bukan orang yang terbaikmu atau mungkin bukan kekasih impianmu